Ganti Velg 17″

Tidak ada yang bisa dibanggakan dari modifikasi kali ini. Bagi sebagian orang mengganti velg menjadi 17″ mungkin saja merubah tampilan makin oke, tapi jika Lancer EX 2.0 GT yang dimaksud justru kemunduran. Dari pembelian mobil sudah diperoleh velg ukuran 18 inci yang harusnya jadi impian rata-rata pemilik mobil. Pasti banyak yang bingung dengan keputusan saya kali ini.

Adalah profil ban tipis yang membuat saya merasa tidak nyaman. Tentu anda paham bahwa jalanan di Indonesia tidak semua mulus. Bahkan daerah pinggiran ibukota seperti Bekasi banyak menyimpan potensi offroad akibat kondisi jalanan yang cukup menyedihkan. Mengingat umur saya bukan lagi remaja, maka kenyamanan muncul sebagai prioritas utama dibandingkan tampilan. Profil ban Toyo Proxes 4 225/45ZR18 95W bukan pilihan yang tepat untuk jalanan ibukota.

Saya pun mempertimbangkan opsi untuk menggunakan dua pilihan velg dan ban. Untuk harian dan medan buruk saya akan menggunakan ukuran yang lebih kecil dan ban yang lebih tebal, sedangkan untuk mengejar tampilan semisal kopdar atau kegiatan yang butuh tampilan extra, saya akan menukar dengan bawaan aslinya. Saya pikir ini adalah opsi masuk akal dari pada terus menggunakan ukuran 18” untuk harian.

Pilihan paling logis adalah turun ke 16 inci, seperti halnya mobil dinas kepolisian. Tapi saya tidak suka motifnya yang jelek. Sempat browsing dan menemukan velg orisinil Lancer EX versi palang lima di luar negeri, saya pun terpikir untuk mencoba menggunakan velg OEM Civic FD1 pre facelift yang sekilas serupa. Saya tidak tertarik dengan velg aftermarket karena beberapa faktor. Pertama, tentu sayang membeli velg 16″ yang mahal. Kedua, jika beli yang murah tentunya tidak memuaskan dari segi performa. Velg OEM sudah mempertimbangkan kedua faktor tadi alias jaminan mutu sehingga tinggal mencari motif yang pas dengan selera

Mulailah mengamati bursa velg bekas hingga sampai bertemu langsung penjual hanya berakhir dengan kekecewaan. Ternyata ukuran center bore Honda lebih kecil daripada Mitsubishi. Sarannya adalah bubut di Sarinande. Lantas saya pun berhitung, apabila membeli velg bekas Honda Civic FD1 plus ban bekas dan bubut maka biayanya lumayan serta masa pakai ban menjadi tidak terduga, tergantung kualitasnya. Belum lagi cover dop Mitsubishi pasti tidak bisa dipasang dengan pas. Entah nanti setelah dibubut, apakah bisa pas. Intinya saya jadi bimbang dan ragu

Velg Grandis dan Outlander Sport

Sempat melirik juga velg milik Mitsubishi Grandis sebagai alternatif. Pertimbangannya adalah jika membeli OEM Mitsubishi, problem mengenai ukuran center bore bisa dihindari. Masalahnya velg tipe GT ukurannya 17 inci dan tipe GLS yang 16 inci motifnya tidak menarik. Saya merasa ukuran 17 inci agak tanggung jika kenyamanan yang jadi tujuan utama. Belum lagi populasi Grandis yang tidak begitu banyak sehingga tentunya sulit menemukan velg Grandis GT.

Kemudian datanglah tawaran dari rekan klub di OSC. Kebetulan OSC hendak mengadakan touring lagi dengan tujuan Ujung Genteng. Tawaran ini jelas saya tolak mentah-mentah. Bayangkan sedan dengan velg 18 inci diajak touring offroad bersama SUV. Ini bukan Evo X dengan penggerak 4WD dan kaki-kaki khusus medan berat. Ini kan mobil jalan raya dengan tampilan sporty. Bayangkan berapa biaya yang harus saya tebus untuk kaki-kaki belakang multilink jika rusak. Ya, multi artinya banyak. Seperti halnya Mitsubishi Galant saya dulu, suspensi multilink terdiri dari bebagai macam lengan. Jika rusak, yang diganti juga banyak dan harganya tidak murah.

Alasan saya mengenai velg 18″ lantas dijawab dengan tawaran peminjaman velg 17 inci OEM milik Outlander Sport dari salah satu rekan OSC. Saya pun berpikir, boleh juga nih tapi untuk touring nanti dulu. Terus terang saya tergoda ikutan touring, mengingat jumlah calon peserta sudah melebihi 15 mobil. Pasti seru nih. Tapi godaan ikut touring saya kesampingkan, yang paling penting adalah tawaran velgnya.

Tanpa pikir panjang, velg segera saya jemput dan ban baru segera saya siapkan. Tidak bisa menggunakan ban bawaan Outlander Sport karena profilnya terlalu tebal (215/60 R17). Dengan melakukan sedikit riset, saya akhirnya mendapatkan berapa seharusnya profil ban standar Lancer EX untuk velg 17 inci yaitu 215/50 R17.


Mulailah saya berburu ban yang sesuai dengan karakter Lancer EX. Seingat saya Dunlop biasanya menawarkan harga terbaik karena merupakan produk lokal. Dulu saya pernah menggunakan Dunlop Veuro VE303 untuk Mitsubishi Galant dan cukup puas dengan performanya. Kali ini pilihan saya jatuh pada Dunlop Direzza DZ101 dibandingkan Dunlop SP Sport FM 901. Saya lihat SP Sport FM 901 punya indeks kecepatan W (270 km/jam), sama dengan ban Toyo yang saya dapatkan dari Lancer EX, tapi saya tidak pernah ngebut sehingga indeks kecepatan V (240 km/jam) adalah pilihan terbaik. Lagipula speedometer mentok di 240 km/jam.

Banyak juga yang bilang umur pakai Dunlop lebih pendek daripada merek lain. Tapi itu bukan masalah karena jika saya membeli ban mahal dengan daya pakai lebih lama maka saat mengeluarkan dana mengganti ban jadi lebih berat. Belum lagi jika ban bocor parah atau rusak saat kondisi masih bagus. Ban adalah media yang bersentuhan dengan jalan, sehingga irisan antara harga beli, umur pakai dan performa harus pas. Lain jika dana berlimpah, tentunya harga tidak masuk dalam hitungan.

Sayangnya stok Direzza di Fortuna Margonda tinggal empat dan menyisakan produk minggu ke-8 dan 9 tahun 2014. Artinya umur ban ini sudah lewat dari satu tahun karena sekarang sudah memasuki minggu ke-20. Hal yang agak aneh mengingat Dunlop adalah produk lokal. Seharusnya kan produk tersebut lebih mudah diperoleh dibandingkan ban impor. Satu-satunya alasan yang paling realistis adalah produk Direzza bukan barang yang sering dicari layaknya ban mobil sejuta umat. Ada rasa malas untuk mencari tempat lain untuk menanyakan waktu produksi, sehingga saya pun meminta harga terbaik. Dapatnya Rp 870 ribu per buah ditambah bonus gratis balancing, spooring dan nitrogen. Bukan the best price, tapi setidaknya saya sudah dapat spooring pikir saya. Tadinya saya mengejar dikisaran harga Rp 700 ribu-an, tapi akan menjadi repot urusannya apabila lokasinya jauh. Ingat, saya tetap harus membawa pulang velg asli 18″. Jika harus titip, tentu proses bolak balik akan repot dan memakan waktu.


Balancing & Spooring

Setelah ban terpasang dan diisi dengan nitrogen, proses selanjutnya adalah balancing. Prosesnya menggunakan sebuah alat lumayan canggih. Intinya menambahkan timah pada kedua sisi velg agar seimbang. Timah ini beratnya 5 gram per keping, walaupun ada ukuran yang lebih besar.

Selesai pasang ban, berikutnya langsung ke proses spooring. Karena sebelumnya sudah pernah posting tentang spooring, maka saya tidak akan membahas detail prosesnya. Saya juga tidak lagi menempel teknisi, saya biarkan saja dia bebas bekerja. Toh kalau rasanya masih kurang enak, kan ada garansinya seminggu.

Selesai proses spooring, mobil saya cuci juga ditempat yang sama. Dulu seingat saya bengkel ini punya nama autobridal deh, tapi sepertinya sudah ganti nama jadi Fortuna. Mungkin saya salah, tapi melihat desain tempat cucinya yang bermotif catur khas autobridal apa iya saya salah. Tarifnya Rp 35 ribu dan saya pikir layak dicoba dari pada harus jalan lagi ke tempat cuci langganan. Selesai mencuci, dua buah velg dan ban asli saya bawa pulang dan titip sisanya untuk diambil esok hari. Sekarang tinggal berburu dongkrak elektrik dan alat pembuka baut ban elektrik. Sehingga jika dibutuhkan tampil, saya bisa dengan mudah menukar ban sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s